Senin, 30 Maret 2009

PENGHIJAUAN SEBAGAI SALAH SATU CARA MENGATASI PERMASALAHAN KOTA



Oleh Muchammad Chusnan Aprianto

Pendahuluan

Permasalahan lingkungan hidup di kota begitu kompleks. Permasalahan tidak terbatas pada kondisi sosialnya, namun juga pada komponen lingkungan lainnya. Permasalahan yang ada mulai dari ketersedian air bersih, sanitasi, polusi, kemacetan, sampai kepada berkurangnya ruang terbuka hijau.

Keterbatasan lahan dan peningkatan jumlah penduduk setiap tahun menyebabkan kota menjadi padat. Akhirnya, kedua faktor tersebut dapat menimbulkan kekumuhan kota. Aktivitas kota akan mempengaruhi kualitas lingkungan perkotaan. Kota dengan kegiatan industri, perdagangan, dan jasa yang intensif akan menimbulkan permasalahan lingkungan. Kompetisi penggunaan lahan yang terjadi antara guna lahan dengan fungsi ekonomis, seperti perdagangan dan jasa, industri serta pemukiman, mendesak keberadaan ruang terbuka bervegetasi.

Pertambahan Penduduk

Saat ini Kota Yogyakarta dapat dikatakan sebagai kota yang padat. Kepadatan kota dikarenakan adanya pertambahan jumlah penduduk yang semakin meningkat setiap tahunnya. Peningkatan ini, walaupun diiringi dengan pemekaran luas kota, namun tidak mampu mencegah permasalahan yang muncul akibat dari pertambahan penduduk. Tabel berikut menunjukkan pertambahan penduduk Kota Yogyakarta mulai tahun 1969 sampai dengan tahun 2006.

Tabel 1. Jumlah Penduduk Kota Yogyakarta.


Sumber: Suryo, 2004; BPS DIY terdapat di: http://www.bps.go.id.

Tabel di atas memperlihatkan jumlah penduduk yang semakin meningkat mulai tahun 1972 sampai tahun 2006. Pertambahan penduduk yang tinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sekitar 100.000 penduduk. Peningkatan penduduk akan menyebabkan kondisi kota semakin padat. Kepadatan penduduk juga dipengaruhi oleh jumlah wisatawan yang datang ke kota. Yogyakarta sebagai kota budaya memiliki angka kunjungan wisatawan yang cukup tinggi. Berikut adalah jumlah kunjungan wisatawan di Provinsi DI Yogyakarta tahun 2001 sampai 2005.

Tabel 2. Jumlah Wisatawan di Provinsi DI Yogyakarta.


Sumber: BPS Provinsi DIY terdapat di http://www.bps.go.id.

Berdasarkan data di atas jumlah wisatawan di Provinsi DIY setiap tahun semakin meningkat. Yogyakarta sebagai daerah budaya tampaknya menjadi tujuan wisata baik dari wisatawan mancanegara maupun dalam negeri. Jumlah wisatawan yang tinggi ini akan menambah jumlah kendaraan bermotor yang masuk ke Yogyakarta.

Pertambahan Kendaraan Bermotor

Pertambahan penduduk mengakibatkan peningkatan jumlah sarana untuk memenuhi dan memudahkan kegiatan sehari-hari. Sarana yang semakin bertambah adalah kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor sangat dibutuhkan sebagai kendaraan yang dapat mempersingkat waktu.

Tahun 2001 sampai dengan 2005, perkembangan kendaraan bermotor di DIY rata-rata 11,9 % per tahun. Pertambahan kendaraan bermotor baru setiap tahun mencapai 83.761 unit dan lebih dari 90 % diantaranya kendaraan roda dua. Pertambahan kendaraan roda empat hanya 7.853 unit per tahun (Kompas 2006a).

Secara umum, pertambahan sepeda motor lebih pesat dibandingkan kendaraan roda empat. Setiap tahun jumlah kendaraan roda dua bertambah sekitar 11,8 %, sementara kendaraan roda empat hanya 6,9 %. Pada tahun 2002, jumlah motor di DIY sebanyak 597.143 unit, kemudian bertambah menjadi 843.077 unit pada tahun 2005 (Kompas 2006b). Jumlah kendaraan bermotor tahun 2005 terbanyak berada di Kota Yogyakarta, yaitu 275.590 unit atau 28,23 % dari total jumlah kendaraan bermotor. Padahal, panjang jalan di kota hanya 224,86 kilometer (Kompas 2006a). Keadaaan ini menyebabkan sejumlah jalan di Kota Yogyakarta sering mengalami kemacetan seperti di Jalan Malioboro dan Jalan Dipenogoro dan sekitarnya.

Kurangnya Ruang Terbuka Hijau

Daerah perkotaan dengan jumlah penduduk yang padat menyebabkan berkurangnya lahan untuk vegetasi. Lahan bervegetasi diganti dengan permukiman, gedung-gedung, dan industri untuk memenuhi kebutuhan penduduk kota. Penggunaan lahan Kota Yogyakarta pada tahun 2005, dominasi penggunaan lahan adalah lahan bukan sawah yaitu seluas 3.250 Ha (96,25%), sedangkan untuk lahan sawah hanya seluas 123 Ha (3,75%). Kecamatan yang masih mempunyai lahan sawah adalah Kecamatan Mantrijeron sebesar 4 Ha (3,28%), Mergangsan 5 Ha (4,10%), Umbulharjo 61 Ha (50%), Kotagede 26 Ha (21,31%) dan Tegalrejo 26 Ha (21,31%) (Lampiran Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kota Yogyakarta 2005-2025).

Ruang terbuka hijau yang sempit menyebabkan radiasi panas dari sinar matahari tidak dipantulkan, namun langsung diserap oleh gedung-gedung, dinding, dan atap. Sarana dan prasarana seperti fasilitas gedung, jalan, pertokoan, permukiman, pabrik menyebabkan berkurangnya jumlah ruang vegetasi di kota. Sarana transportasi yang semakin meningkat menyebabkan naiknya kuantitas gas CO2. Sedikit ruang vegetasi yang ada menyebabkan berkurangnya penyerapan CO2, akibatnya terjadi ketidakseimbangan komposisi udara. Hal ini mengakibatkan suhu permukaan meningkat 10 s.d. 20oC dari suhu udara ambient (Heidt dan Neef 2006).

Besarnya jumlah penduduk, banyaknya bangunan-bangunan, kendaraan bermotor yang memacetkan jalan, dan kebisingan menyebabkan Kota Yogyakarta terasa semakin sesak dan tidak nyaman. Dalam melakukan kegiatan sehari-hari, suatu hal yang sangat diperhatikan adalah kenyamanan dalam melakukan suatu kegiatan, apalagi jika berhubungan dengan kegiatan kesenangan atau bermain maka faktor kenyamanan merupakan prioritas yang sangat penting. Sebagian besar kota di Indonesia saat ini dirasakan tidak nyaman, penuh kebisingan, panas waktu siang hari, polusi udara, banjir jika musim penghujan. Salah satu penyebabnya adalah hilangnya salah satu daya dukung lingkungan.

Peningkatan suhu udara di perkotaan terjadi akibat meluasnya areal terbangun sebagai hasil dari proses urbanisasi yang intensif. Kota akan menyimpan dan melepaskan panas di siang hari dan malam hari. Pada malam hari kota menjadi lebih panas dibanding daerah sekitarnya dan terjadi efek pulau bahang atau urban heat island.

Manfaat Penghijauan

Jalur hijau vegetasi berguna untuk mengurangi efek pulau bahang. Tumbuhan dan air akan mengurangi panas melalui evapotranspirasi yang dilakukan. Penambahan luas permukaan untuk vegetasi dapat menurunkan suhu maksium udara.

Intruksi Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun 1988 mengemukakan bahwa ruang terbuka hijau mempunyai manfaat sebagai berikut:
1. Memberikan kesegaran, kenyamanan, dan keindahan lingkungan
2. Memberikan lingkungan bersih dan sehat
3. Memberikan hasil produksi berupa kayu, daun, bunga, biji, serta buah atau hasil lainnya.

Manfaat dari segi fisik

Manfaat dari segi ini dapat langsung dirasakan. Manfaat yang dapat langsung dirasakan adalah menciptakan iklim mikro di dalam perkotaan. Rumput-rumputan walaupun tergolong tanaman bawah, namun memiliki peranan untuk merubah komposisi CO2 udara sekitar, presipitasi, dan suhu sekitar dalam kisaran kecil (Dukes et al. 2005).

Contah lain adalah Kota Guangzhou, Cina. Kota Guangzhou adalah kota yang terletak di Selatan Cina yang mengalami pertumbuhan kota yang pesat sejak tahun 1980an. Pertumbuhan kota ini menyebabkan ruang terbuka dimanfaatkan sebagai sarana pendukung kegiatan penduduk seperti permukiman atau gedung-gedung. Hal ini menciptakan perubahan iklim mikro dalam kota sehingga kota menjadi panas (urban heat islands).

Pemerintah daerah Guangzhou telah melakukan usaha dan menerapkan berbagai macam tipe penghijauan dan kebijakan bentanglahan terkait penghijauan sejak tahun 1949. Diperkirakan total wilayah taman dan ruang hijau lainnya meningkat dari 37,36 km2 tahun 1978 menjadi 83.5 km2 tahun 1999. Telah diukur dan disimpulkan bahwa pada jalan yang memiliki vegetasi menurunkan temperatur di siang hari dibandingkan dengan jalan yang tidak memiliki vegetasi. Pohon di dalam taman, dapat menurunkan temperatur di bawah kanopi sebesar 2,1 oC, sedangkan jalan dan area permukiman sebesar 0,5 sampai dengan 0,9 oC. Penghijauan juga dapat meningkatkan kelembaban sebesar 9% sampai 25% (Weng dan Yang 2003).

Udara alami yang bersih sering dikotori oleh debu, baik yang dihasilkan oleh kegiatan alami maupun kegiatan manusia. Dengan adanya hutan kota, partikel padat yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi akan dapat dibersihkan oleh tajuk pohon melalui proses jerapan dan serapan. Dengan adanya mekanisme ini jumlah debu yang melayang-layang di udara akan menurun. Partikel yang melayang-layang di permukaan bumi sebagian akan terjerap (menempel) pada permukaan daun, khususnya daun yang berbulu dan yang mempunyai permukaan yang kasar dan sebagian lagi terserap masuk ke dalam ruang stomata daun. Ada juga partikel yang menempel pada kulit pohon, cabang dan ranting.

Tabel 6. Kemampuan Tanaman Menyerap Debu.



Sumber: Tandjung 2003.

Daun yang berbulu dan berlekuk seperti halnya daun Bunga Matahari dan Kersen mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menjerap partikel dari pada daun yang mempunyai permukaan yang halus. Manfaat dari adanya tajuk hutan kota ini adalah menjadikan udara yang lebih bersih dan sehat, jika dibandingkan dengan kondisi udara pada kondisi tanpa tajuk dari hutan kota (Dahlan dan Endes 1992).

Penghijauan atau hutan kota dapat mengurangi efek pulau bahang. Vegetasi mengurangi efek ini melalui penyerapan sumber-sumber pencemar. Penelitian di Toronto tahun 2005 membuktikan bahwa vegetasi dapat mengurangi sumber-sumber pencemar NO2, S02, CO, PM10 and ozon. Rumput di atap dapat menyerap CO 0,14 - 0,35 Mg, menyerap NO2 0,65 - 1,60 Mg, menyerap ozon 1,27 - 3,1 Mg, menyerap PM10 0,88 - 2,17 Mg, menyerap SO2 0,25 - 0,61 Mg. Pohon mampu menyerap CO 0,06 - 0,57 Mg, NO2 0,62 - 3,74 Mg, ozon 1,09 - 7,4 Mg, PM10 1,37 - 5,57 Mg, dan SO2 0,23 - 1,37 Mg (Currie dan Bass 2005).

Ruang terbuka hijau berupa hutan kota mampu mereduksi kebisingan, tergantung dari jenis spesies, tinggi tanaman, kerapatan dan jarak tumbuh, dan faktor iklim yaitu suhu, kecepatan angin, dan kelembaban. Penelitian di hutan kota Sabilal Muhtadin Banjarmasin (luas ± 2,5 ha) menunjukkan bahwa hutan kota mampu menurunkan kebisingan. dengan luas areal penghijauan. Penurunan kebisingan dari titik 1 (di luar areal hutan kota) dengan kebisingan dititik ukur 2 ( di dalam hutan kota) sebesar 7,51 dB atau 12,74 %, penurunan kebisingan titik ukur 1 dan titik ukur 3 adalah sebesar 10,58 dB atau 17,95 %, dan penurunan kebisingan dari titik ukur 2 ke titik ukur 3 sebesar 3,07 dB atau 5,96 %, berarti penurunan rata rata kebisingan di luar hutan kota dengan kebisingan di dalam hutan kota sebesar 12,07 % (Zulfahani et.al. 2005).

Manfaat dari segi sosial

Keuntungan sosial dari penghijauan dapat dirasakan oleh individual, sebuah organisasi, atau seluruh penduduk. Pemandangan ruang hijau dapat meningkatkan produktivitas kerja, mengurangi kekerasan rumah tangga, dapat mempercepat penyembuhan. Keuntungan ruang hijau juga dirasakan oleh organisasi. Pekerja yang di ruangan sekitanya terdapat pemandangan hijau vegetasi memiliki produktivitas kerja yang lebih tinggi, dan supervisor menyatakan bahwa pekerjanya lebih produktif.

Sebagian besar keuntungan penghijauan/lingkungan hijau terukur pada tingkat individu. Pemandangan vegetasi dan air telah dibuktikan mengurangi stres, meningkatkan penyembuhan, dan mengurangi penderita frustasi dan agresi. Pemandangan ruang hijau di rumah juga terkait dengan rasa kasih sayang yang tinggi dan kepuasan tetangga.

Tinggal dan bermain di tempat hijau/bervegetasi dapat sangat bermanfaat bagi anak-anak. Bermain di tempat hijau dengan pohon dan vegetasi dapat mendukung perkembangan kemampuan dan kognitif anak. Hidup dalam lingkungan bervegetasi dapat memperbaiki prestasi sekolah siswa dan mengurangi laporan kekerasan dalam rumahtangga (Westphal 2003).

Kualitas lingkungan fisik permukiman seperti lingkungan bervegetasi atau tanaman, banyaknya penyinaran matahari, dan sedikitnya kebisingan memiliki kaitan erat dengan umur panjang penduduk. Faktor ruang hijau dan jalan bervegetasi dekat permukiman secara signifikan mempengaruhi kelangsungan hidup 5 tahun penduduk dan ini tidak tergantung pada usia penduduk, jenis kelamin, status perkawinan, prilaku terhadap komunitasnya, dan status sosial ekonomi (Takano et al. 2002).

Persentase ruang hijau vegetasi di permukiman penduduk menunjukkan hubungan positif terhadap kesehatan penduduk secara umum. Penduduk yang memiliki ruang hijau vegetasi dengan radius 1 km sampai 3 km di sekeliling permukiman memiliki perasaan sehat yang tinggi dibandingkan dengan penduduk yang tinggal tanpa vegetasi (Maas et al. 2006).
Gambar 2 menunjukkan hubungan antara ruang terbuka hijau vegetasi dengan kesehatan penduduk.



Gambar 3. Hubungan antara jumlah ruang terbuka hijau (dalam radius 3 km) dengan kesehatan pribadi secara umum (Maas et al. 2006).

Kaitan segala aspek penghijauan di atas terhadap kehidupan masyarakat menjadikan masyarakat kota berwawasan ekologi. Tujuan dari masyarakat kota berwawasan ekologis adalah menyampaikan permasalahan lingkungan perkotaan yang tanpa dirasa cenderung memburuk, menjadikan kota tempat yang aman dan nyaman untuk bekerja, hidup, dan membesarkan anak tanpa merusak kemampuan generasi depan untuk berbuat hal yang sama. Tujuan masyarakat berwawasan ekologi terletak pada umat manusia yang hidup berdampingan dengan siklus alam pada prioritas kepedulian lingkungan dalam penyelenggarakan perkotaan (Inoguchi et.al. 2003).

Kesimpulan

Permasalahan yang selalu ada di kota adalah pertambahan penduduk setiap tahun. Pertambahan ini menyebabkan peningkatan sarana penunjang berupa kendaraan bermotor dan gedung/bangunan. Sarana ini menyebabkan masalah pada kondisi fisik kota. Masalah yang muncul adalah terciptanya efek pulau bahang, udara kota yang tidak sehat, kebisingan, dan ketidaknyamanan hidup di kota. Penghijauan mampu mengembalikan iklim mikro kota sehingga menghilangkan efek pulau bahang. Vegetasi juga mampu menyerap debu dan polutan yang dihasilkan kendaraan bermotor. Manfaat lain adalah vegetasi mampu meredam kebisingan dan meningkatkan kenyamanan hidup di kota.

Daftar Pustaka

BPS Provinsi DIY., Jumlah Penduduk DIY Tahun 2005. Terdapat di: http://www.bps.go.id (Diakses tanggal 1 November 2007).

BPS Provinsi DIY., Jumlah Penduduk DIY Tahun 2006. Terdapat di: http://www.ypr.or.id/arikel/download/download_statistik_pendudukdiy2006_070307.pdf (Diakses tanggal 1 Desember 2007).

Currie, B.A. dan Bass, B., 2005. Estimates of Air Pollution Mitigation With Green Plants and Green Roofs Using The Ufore Model. Environment Canada Adaptation and Research Group. Toronto. Terdapat di: http://cansee.org/cdocs/2005/63/CANSEE%20Paper%20October%
2005.doc (Diakses: 12 September 2007).

Dahlan. dan Endes, N., 1992. Hutan Kota: untuk Pengelolaan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup. Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia. Jakarta.

Dukes J.S. Nona R.C. Elsa E.C. Lisa A.M. Rebecca, S. Susan, T. Todd, T. Harold, A.M. dan Chistopher, B.F., 2005. Responseof Grassland Production to Single and Multiple Global Environmental Changes. Plas Biology. 3:0001-0009.

Heidt, F. dan Neef, M., 2006. Benefits of Urban Green Space and Urban Climate. RegioComun – Institute for Strategic Regional Management, Department of Geography, University of Mainz. Germany. Terdapat di: http://www.regiocomun.geowiss.uni-mainz.de (Diakses: 19 September 2007).

Inoguchi, T. Edward, N. Dan Glen, P., 2003. Kota dan Lingkungan Pendekatan Baru Masyarakat Berwawasan Ekologi. Pustaka LP3E. Jakarta.

Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun 1988 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Perkotaan.

Kompas., 2006a. Pertambahan Sepeda Motor di DIY 11 Persen per Tahun. Sabtu, 23 September 2006. Terdapat di: http://www.kompas.com/ (Diakses Tanggal 2 November 2007).

Kompas., 2006b. Tiap Bulan 7.000 Motor Baru Penuhi Jalan di DIY. Senin, 2 Oktober 2006. Terdapat di: http://www.kompas.com/ (Diakses Tanggal 2 November 2007).

Lampiran Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kota Yogyakarta 2005-2025., 2007. Yogyakarta. Terdapat di http://www.jogja.go.id (Diakses tanggal 1 Desember 2007).

Maas J. Robert, A.V. Peter, P.G. Sjerp, dV. dan Peter, S., 2006. Green Space, Urbanity, and Health: how strong is the relation? Journal of Epidemiology Community Health. 60:587-592.

Suryo, D., 2004. Penduduk dan Perkembangan Kota Yogyakarta 1900-1990. Disampaikan pada The First International Conference on Urban History Surabaya, 23-25 Agustus 2004. Terdapat di: www.indie-indonesie.nl/content/documents/papers-urban%20history/joko%20 suryo.pdf (Diakses tanggal: 2 Desember 2007).

Takano, K. Nakamura K. dan Watanabe M., 2002. Urban Residential Environments and Senior Citizens’ Longevity in Megacity Areas: The Importance of Walkable Green Spaces. Journal of Epidemiology Community Health. 56:913-918.

Weng, Q. dan Yang S., 2003. Managing The Adverse Thermal Effects of Urban Development in a Densley Populated Chinese City. Journal of Environmental Management. Xx(0000):xxx-xxx.

Westphal, LM., 2003. Urban Greening and Sosial Benefits: A Study of Empowerment Outcomes. Journal of Arboriculture. 29(3):137-147.

Zulfahani, R. Hatta, G.M. Rusmayadi. dan Maharso., 2005. Peran Hutan Kota dalam Menurunkan Tingkat Kebisingan. Enviro Scienteae. 1(1): 29-35.

Sumber :
http://chusnan.web.ugm.ac.id/index.php?subaction=showfull&id=1197967930&archive=&start_from=&ucat=2&do=artikel18 Dec 2007

Sumber Gambar:
http://upik.jogja.go.id/news/FOTO%20JOGJA%20BARU1.jpg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar